Guru: murah atau murahan?



Baru pulang dari berkencan. 

Berkencan menurut definisi kami bukan dengan pria keren ke kafe keren diiringi musik yang ehem-ehem. Berkencan menurut definisi kita cuma sekedar makan bareng tapi ngobrolnya digedein, dan setega cuma beli satu minum dibagi berbanyak orang. Yang penting ngobrol. 

Obrolan kita ya sama, random. 

Tadi kita ngobrolin banyak hal kayak biasanya, kita menyebutnya dengan sebutan rapat karena obrolan yang kita bahas udah kayak presiden mikirin nasib rakyat. Ngobrolin politik Indonesia yang semakin nggak ngerti arahnya, berita-berita heboh seputar keagamaan, ngrasani tetangga sebelah, nyeritain pekerjaan masing-masing, dan akhirnya obrolan ter agak panjang kali ini adalah tentang semurah itu ya gaji guru.
Kita udah ngerasain sendiri gimana  engapnya ngurusin anak orang, emosinya ngurusin anak orang sampai yang harus akting bahagia didepan anak orang. Sebenarnya semua pekerjaan itu penting, tapi kusus kali ini bahasannya tentang guru. Bagi aku pribadi, guru itu makhluk yang sangat luar biasa keren disamping emang orangtua dan keluarga yang udah ngasih pendidikan kita dari bayi tapi jasa guru juga nggak kalah karena nggak semua orangtua ngerti gimana rumus matematika atau cara ngitung debit kredit. Disitu kita masih butuh guru. Tapi disayangkan sekali orang yang bikin kita pinter kayak gitu cuma digaji seadanya sama sekolah bahkan pemerintah, sebenarnya bukan disayangkan tapi kita berhak mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita lakukan. 

Salah kaprah ketika manusia kita sekarang ini menganggap guru sesuatu yang biasa, semua orang bisa jadi guru semua orang bisa ngajar semua orang bisa bikin RPP. Karena mengajar bukan hanya tentang itu, kreatif diperlukan biar murid kita nggak bosen, ketepatan jam pembelajaran dengan materi yang disampaikan juga musti pas, bisa ngebawa suasana biar nggak garing sesuatu sesimpel ini kadang gakbisa dimiliki semua guru. Tapi sayangnya lagi semua orang seakan-akan berlomba-lomba ingin menempati posisi ini hanya karena “ya nggak ada kerjaan lagi.” Prinsip kayak gini bener-bener ngasih dampak negatif ke semua guru yang kerjanya bener-bener buat murid, kerjanya bener-bener pengen bikin pinter murid bukan hanya soal punya pekerjaan tapi juga soal passion. 

Segelintir orang-orang seperti ini yang membuat image guru semakin rendah di mata masyarakat, guru semakin diremehkan salah dikit lapor. Jaman SD dulu kuku ada item-item nya dikit digetok pake penggaris sampe merah juga nggak ada yang koar tuh emak-emak. Apakah pendidikan ini salah? Menurutku pribadi sih enggak, karena sebenernya yang dilakuin guru ini bukan suatu kekerasan tapi punishment yang membangun, bakal termemori dan nggak akan diulang lagi sama si anak.
Balik lagi ke persoalan kenapa gaji guru murah selain statement dari masyarakat yang menganggap kerjaan guru ya Cuma gitu-gitu aja juga kurangnya keterbukaan dari sekolah yang menaungi guru dan pemerintah. Keterbukaan yang dimaksud disini, orang-orang ini kurang ‘melek’ dengan apa sebenarnya porsi guru di sekolah. Semua dianggap proses, ya kalau kamu lama kerja ya duit kamu bakal banyak. Sedangkan kalau kita lihat di lapangan semakin lama guru ngajar atau katakanlah mereka-mereka yang jadi PNS semakin lama kerjaan mereka nggak semakin berat malah makin ringan. Kerjaan yang susah-susah dikasih ke guru tidak tetap dan mereka yang udah senior asik nongkrong di kantor. Sebenarnya wajar anak angkatan baru di gembleng kayak gitu tapi tidak semata-mata merugikan satu pihak dan mengenakan pihak yang lain. Toh cara menggembleng dalam pekerjaan hanya cukup dengan dia tau tanggung jawab dan melakukan sesuai aturan. Itu sudah sangat cukup.
Pengadopsian bayaran disesuaikan sama lama kerja itu sesuatu yang aneh menurutku, karena seharusnya kita melakukan kewajiban dan mendapatkan hak sesuai porsi kita. Porsi dimana kita bekerja banyak ya dapat porsi banyak atau kalau kita bekerja sedikit ya kita dapat porsi yang sedikit.
Walaupun porsi terbesar dari seorang guru itu didapat dari yang Maha Memberi porsi tetapi tetap saja ketika kita berada di dunia yang semakin gila ini, semua uang semua barang semua jabatan kita akan jadi budak yang diperbodoh. Bukan diperbudak oleh keadaan tapi diperbudak oleh aturan yang sebenarnya tidak relevan.
aturan-aturan ini membelunggu semua guru untuk bekerja seadanya. Serepot apapun kamu kerja atau sesantai apapun kamu kerja ya uangnya bakal sama. Sampai-sampai mereka lupa bahwa tanggung jawab seorang guru itu besar ke Tuhan, sekali aja kita salah ngasih ilmu ke anak dan anak make sampe dia mati (ibaratnya) yang kena juga kita juga. Mungkin cambuk untuk semua guru adalah itu, ingat aja sama Tuhan. Tapi juga tidak berhenti sampe disitu. Kita nih utamanya calon guru-guru muda masih punya kesempatan buat ngobrak-abrik aturan tidak relevan yang udah melekat di semua sekolah ini. Tingkatin kualitas sebagai guru muda, bukan sekedar kerja tapi menjaga dan melayani dengan mengingat tanggung jawab terbesar untuk Tuhan.


Komentar

  1. Ejaannya, Yut. Meski ini blog pribadi, nggak ada salahnya biasakan lebih rapi. Penempatan 'di'nya aja kok yang kurang pas.

    Moga, kau masuk orang yang bertahan dengan idealismemu. Sebab dunia kerja (full time) itu sungguhan beda dengan dunia sekolah. Idealisme dan hal-hal yanh dipegang baik bisa terkikis seiring waktu.

    Aku jadi inget kakak tingkatku yang kerja di tempat PPLku dulu. Awal tahun, dia baik, mulai dari cara kerja sampai sikap ke orang. Tahun berikutnya, pas adek tingkat berikutnya PPL, dia berubah. Dia ngikut sebagian orang di situ yang nggak mau open sama orang baru, entah guru baru apalagi anak PPL. Dia nggak lagi fokus meningkatkan kualitas kerja, tapi fokus memertahankan posisi. Kasihan seniorku itu. Aku sempet kaget pas diceritain anak-anak PPL berikutnya. Padal, awal tahun dia di sana pas aku PPL itu dia nggak segan membagi kualitas kerjanya ke orang baru, guru baru atau anak PPL.

    BalasHapus
  2. terimaksih mbak popy komentarnya yang sellau membangun. semoga selalu seperti ini dan tidak berhenti menulis hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer