Nyindir lewat WA Story
Jadi kenapa semua harus berpendidikan?
Bukan hanya untuk tau rumus matematika, tapi tau etika berbicara.
Status agak emosi di WA sore-sore.
Beberapa dari kita pasti pernah punya pikiran, “Semua orang Indonesia punya etika dan sopan santun yang nggak usah dipertanyakan lagi.” Aku termasuk didalamnya.
Jelas bukan karena pendidikan orang Indonesia punya etika dan sopan santun yang luar biasa, tapi emang karena nenek moyang kita bahkan emak-emak kita selalu mendidik seperti itu dari kecil. Bagaimana kita memperlakukan orang yang lebih tua, atau sepantaran. Bagaimana cara kita bicara dengan orang yang mungkin baru kita kenal. Semua ada aturannya, dan ini tidak tertulis di bangku sekolah. Hal itu yang membuat aku yakin bukan hanya tingkat pendidikan di bangku sekolah atau kuliah yang ngebuat orang Indonesia super duper sopan.
Kalau yang dilihat hanya sebatas “Kamu lulusan apa?” mungkin akan banyak orang Indonesia yang ngomongnya nggak sopan dan nggak beretika karena pendidikan di bangku sekolah di negara kita juga masih perlu diratakan lagi. Kalau pun dia lulusan sarjana, kadang kita tidak bisa menebak karena di banyak acara debat TV yang semuanya lulusan sarjana tapi juga masih nggak kalem.
Jadi pasti bukan karena ‘Kamu lulusan apa’
Sedikit nggak nyangka sama kejadian hari ini, hanya sedikit tapi lumayan menggerakkan jariku buat bikin stori.
CV yang masuk di Bimbel Inklusif macam-macam. Macam-macam orang dan macam-macam pendidikan terakhirnya. Dengan macam-macam itu ternyata nyempil juga satu orang yang ngebikin kaget dengan cara dia berbicara dan cara dia menyampaikan pendapat.
Agak kaget.
Terus mikir “Oh ada ya orang kayak gini”
Mbahku pernah bilang, begini kira-kira “Urip iku kudu pinter nitipne awak”
“Hidup itu harus pintar menitipkan diri”
Aneh ya kalau di translate ke bahasa Indonesia. Tapi kira-kira begitu. Kita hidup harus serba pintar menitipkan diri. Kenapa kita sopan dan segan sama orangtua? Selain beliau yang membesarkan beliau juga yang melindungi jadi ya harus mengerti posisi kita. Kira-kira begitu. Kerja pun demikian. Pengalaman dulu waktu kerja, siapapun itu entah bos entah bawahannya bos ataupun sekedar orang tukang sapu di kantor harus tetap sopan dan segan. Begitu ya? Yakin semuanya begitu.
Agak kaget.
Sedikit nggak nyangka sama kejadian hari ini, ditengah-tengah peliknya PPL (oke, yang ini alay). Untuk pertama kalinya melihat orang dengan karakter seperti ini dengan orang lain yang baru dikenal dan saat bekerja sama yang harusnya itu saling menguntungkan semua pihak. Tapi mungkin ini tidak menguntungkan bagi beliaunya.
Agak kaget.
Saat interview semua berjalan baik, kesepakatan sudah dibuat, kontrak sudah ditandangani. Melihat dari statusnya sepertinya semangat bekerja untuk hari pertama. Perasaan ‘kok gitu’ waktu interview kemarin bisa dihilangkan sedikit. Sama sekali tidak punya ekspektasi buat berpikiran ‘kok gini’ sampai akhirnya beliau menghubungi dengan nada dan kata seperti itu.
Oke, mungkin bagian ini akan sedikit mbulet. Intinya mbaknya resign dengan etika yang kurang bagus dan alasan yang kurang jelas ditambah masih kerja satu hari. Intinya begitu.
Agak kaget.
Kagetnya begini. Perasaan yang sedari dulu dipupuk kalau penampilan luar tidak menjamin, lugunya seseorang tidak menjamin dan gampang percaya itu tidak selamanya bagus. Eh, tapi aku juga bukan orang yang gampang percaya, tapi gampang ditipu dengan muka lugu dan melas. Kira-kira begitu.
Rasanya hubungan sopan santun itu bukan lagi antara yang tua dan muda tapi juga antar relasi apalagi orang yang baru kita kenal. Menyombongkan diri siapa diri kita rasanya sekarang ini juga tidak perlu. Karena siapa kita sudah dibuktikan dengan gimana perilaku kita sama orang.
Agak kaget.
Dulu sering gregeten kalau dimarahi ibuk “Kalau kelakuanmu jelek yang disalahkan pertama kali adalah orangtua. Bukan kamu.” Begitu katanya. Pas dulu agak nggak masuk akal, kenapa harus bawa-bawa orangtua. Lama-kelamaan mulai sadar kalau pendidikan paling besar diberikan orangtua. Jadi gitu ya.
Walaupun banyak anak-anak diluar sana yang ‘kurang bagus’ dapat pendidikan yang baik dari orangtuanya, tapi pendidikan dari orangtua dan rumah itu udah paling nomor satu ketimbang pendidikan diluar. Makanya kenapa masih banyak orang yang mengaitkan apa yang terjadi dengan anak adalah bagian kesalahan orangtua.
Agak kaget.
Mungkin mbaknya ini, kebetulan saja sedang tidak dalam mood yang baik akhirnya celetukannya kurang enak juga. Tapi jujur sebagai manusia yang sering berprasangka, jadi mengambil banyak kesimpulan di awal tragedi terjadi. Langsung nge cek pendidikan terakhirnya, alamat rumahnya, dan yang pasti penampilannya. Sampai ber jam-jam karena masih kezeeel sama si mbak ini hati ngedumel sendiri. Sampai akhirnya salah satu mbak-mbak lain yang pendidikannya sama, rumahnya masih di daerah yang hampir sama dan penampilan juga hampir sama ngomongnya selalu kalem dan ngerti kata-kata apa yang harus dipakai sebagai relasi kerja disitu aku ngerasa “Oh bukan karena itu.”
Udah nggak kaget.
Ketemu mbak ini adalah salah satu pengalaman melihat orang lagi. Bukan untuk menjadikan bahan tulisan di blog yang sepi pembaca ini. Tapi jadi kenang-kenangan bahwa pernah ada orang se-nggemesin itu. Dan jadi penggaris bawah, kalau pendidikan itu penting. Bukan di sekolah. Tapi di rumah.
Bukan hanya untuk tau rumus matematika, tapi tau etika berbicara.
Status agak emosi di WA sore-sore.
Beberapa dari kita pasti pernah punya pikiran, “Semua orang Indonesia punya etika dan sopan santun yang nggak usah dipertanyakan lagi.” Aku termasuk didalamnya.
Jelas bukan karena pendidikan orang Indonesia punya etika dan sopan santun yang luar biasa, tapi emang karena nenek moyang kita bahkan emak-emak kita selalu mendidik seperti itu dari kecil. Bagaimana kita memperlakukan orang yang lebih tua, atau sepantaran. Bagaimana cara kita bicara dengan orang yang mungkin baru kita kenal. Semua ada aturannya, dan ini tidak tertulis di bangku sekolah. Hal itu yang membuat aku yakin bukan hanya tingkat pendidikan di bangku sekolah atau kuliah yang ngebuat orang Indonesia super duper sopan.
Kalau yang dilihat hanya sebatas “Kamu lulusan apa?” mungkin akan banyak orang Indonesia yang ngomongnya nggak sopan dan nggak beretika karena pendidikan di bangku sekolah di negara kita juga masih perlu diratakan lagi. Kalau pun dia lulusan sarjana, kadang kita tidak bisa menebak karena di banyak acara debat TV yang semuanya lulusan sarjana tapi juga masih nggak kalem.
Jadi pasti bukan karena ‘Kamu lulusan apa’
Sedikit nggak nyangka sama kejadian hari ini, hanya sedikit tapi lumayan menggerakkan jariku buat bikin stori.
CV yang masuk di Bimbel Inklusif macam-macam. Macam-macam orang dan macam-macam pendidikan terakhirnya. Dengan macam-macam itu ternyata nyempil juga satu orang yang ngebikin kaget dengan cara dia berbicara dan cara dia menyampaikan pendapat.
Agak kaget.
Terus mikir “Oh ada ya orang kayak gini”
Mbahku pernah bilang, begini kira-kira “Urip iku kudu pinter nitipne awak”
“Hidup itu harus pintar menitipkan diri”
Aneh ya kalau di translate ke bahasa Indonesia. Tapi kira-kira begitu. Kita hidup harus serba pintar menitipkan diri. Kenapa kita sopan dan segan sama orangtua? Selain beliau yang membesarkan beliau juga yang melindungi jadi ya harus mengerti posisi kita. Kira-kira begitu. Kerja pun demikian. Pengalaman dulu waktu kerja, siapapun itu entah bos entah bawahannya bos ataupun sekedar orang tukang sapu di kantor harus tetap sopan dan segan. Begitu ya? Yakin semuanya begitu.
Agak kaget.
Sedikit nggak nyangka sama kejadian hari ini, ditengah-tengah peliknya PPL (oke, yang ini alay). Untuk pertama kalinya melihat orang dengan karakter seperti ini dengan orang lain yang baru dikenal dan saat bekerja sama yang harusnya itu saling menguntungkan semua pihak. Tapi mungkin ini tidak menguntungkan bagi beliaunya.
Agak kaget.
Saat interview semua berjalan baik, kesepakatan sudah dibuat, kontrak sudah ditandangani. Melihat dari statusnya sepertinya semangat bekerja untuk hari pertama. Perasaan ‘kok gitu’ waktu interview kemarin bisa dihilangkan sedikit. Sama sekali tidak punya ekspektasi buat berpikiran ‘kok gini’ sampai akhirnya beliau menghubungi dengan nada dan kata seperti itu.
Oke, mungkin bagian ini akan sedikit mbulet. Intinya mbaknya resign dengan etika yang kurang bagus dan alasan yang kurang jelas ditambah masih kerja satu hari. Intinya begitu.
Agak kaget.
Kagetnya begini. Perasaan yang sedari dulu dipupuk kalau penampilan luar tidak menjamin, lugunya seseorang tidak menjamin dan gampang percaya itu tidak selamanya bagus. Eh, tapi aku juga bukan orang yang gampang percaya, tapi gampang ditipu dengan muka lugu dan melas. Kira-kira begitu.
Rasanya hubungan sopan santun itu bukan lagi antara yang tua dan muda tapi juga antar relasi apalagi orang yang baru kita kenal. Menyombongkan diri siapa diri kita rasanya sekarang ini juga tidak perlu. Karena siapa kita sudah dibuktikan dengan gimana perilaku kita sama orang.
Agak kaget.
Dulu sering gregeten kalau dimarahi ibuk “Kalau kelakuanmu jelek yang disalahkan pertama kali adalah orangtua. Bukan kamu.” Begitu katanya. Pas dulu agak nggak masuk akal, kenapa harus bawa-bawa orangtua. Lama-kelamaan mulai sadar kalau pendidikan paling besar diberikan orangtua. Jadi gitu ya.
Walaupun banyak anak-anak diluar sana yang ‘kurang bagus’ dapat pendidikan yang baik dari orangtuanya, tapi pendidikan dari orangtua dan rumah itu udah paling nomor satu ketimbang pendidikan diluar. Makanya kenapa masih banyak orang yang mengaitkan apa yang terjadi dengan anak adalah bagian kesalahan orangtua.
Agak kaget.
Mungkin mbaknya ini, kebetulan saja sedang tidak dalam mood yang baik akhirnya celetukannya kurang enak juga. Tapi jujur sebagai manusia yang sering berprasangka, jadi mengambil banyak kesimpulan di awal tragedi terjadi. Langsung nge cek pendidikan terakhirnya, alamat rumahnya, dan yang pasti penampilannya. Sampai ber jam-jam karena masih kezeeel sama si mbak ini hati ngedumel sendiri. Sampai akhirnya salah satu mbak-mbak lain yang pendidikannya sama, rumahnya masih di daerah yang hampir sama dan penampilan juga hampir sama ngomongnya selalu kalem dan ngerti kata-kata apa yang harus dipakai sebagai relasi kerja disitu aku ngerasa “Oh bukan karena itu.”
Udah nggak kaget.
Ketemu mbak ini adalah salah satu pengalaman melihat orang lagi. Bukan untuk menjadikan bahan tulisan di blog yang sepi pembaca ini. Tapi jadi kenang-kenangan bahwa pernah ada orang se-nggemesin itu. Dan jadi penggaris bawah, kalau pendidikan itu penting. Bukan di sekolah. Tapi di rumah.
Like
BalasHapus