Hidup Normal

Kemarin sempat berjanji pada diri sendiri buat nulis pas kerjaan  udah selesai. Tapi lagi-lagi moodswing!

Kali ini aku mau cerita tentang Bulan Puasa. Bulan dimana kita tahu disetiap tempat ada berkah dan disetiap tempat juga mungkin ada musibah. Tergantung gimana kita bersikap.

Sebagian dari kita menginginkan puasa dengan normal (di rumah bersama keluarga) dan menghindari hal-hal yang tidak normal. Mungkin itu bisa dilakukan oleh orang-orang yang sedang kuliah atau anak sekolah. Bagi kalian yang seumuran sama aku, pasti sudah mulai memasuki umur 23 tahun. Umur dimana seharusnya sudah kerja dan nggak bisa se santai anak sekolah di bulan puasa. Namun tidak jarang, banyak dari kita yang masih bisa merasakan ‘hidup normal’ dimana bulan puasa adalah bulan yang bisa menyatukan kita dengan keluarga alias libur lebih lama dan kadang suka ngaung-ngaung kalau liburnya Cuma beberapa hari aja.

Di tulisan kali ini aku mau cerita sedikit tentang bagaimana aku melewati Ramadhan 4 atau 5 tahun lalu. Sebelum masuk perguruan tinggi, aku memasukan lamaran di sebuah toko baju di salah satu mall besar di Malang. Alhamdulillah ketrima, pas waktu itu nggak banyak yang dipikirkan selain aku udah punya kerja dan bisa dapat uang sendiri buat lebaran. Ternyata diluar ekspektasi. Jam kerja yang waktu itu masih belum bisa ku terima karena aku nggak bisa shalat tarawih kayak biasanya, nunggu buka puasa dengan santai-santainya, makanan yang bisa milih mau makan kayak gimana. Waktu itu, shalat tarawih di masjid hanya bisa aku lakukan 1 kali selama bulan Ramadhan. Makan enak tanpa musti lari-lari ngejar waktu buat beli makan dan es cendol didepan hanya bisa dilakukan sekitar 3 kali pas ibuk jenguk ke kerjaan.

Mungkin hal seperti ini belum banyak kita rasakan utamanya bagi kita yang kerjanya teratur (pagi sampai sore aja), masih bisa melakukan hal-hal menyenangkan di bulan Ramadhan. Tapi bagi mereka yang kerjanya ada tuntutan? Jangankan shalat tarawih di masjid buat buka mushaf aja kadang masih susah hanya karena kerjaan.

Pertanyaannya. Bagaimana nuansa Ramadhan menurut mereka? Apakah masih menjadi bulan yang di agung-agung kan atau hanya sebatas bulan bertambahnya rezeki saja?

Tahun lalu, Ramadhan di perantauan dan mencoba peruntungan dengan berjualan makanan bersama teman-teman (ya yang itu). Alhamdulillah jalan dan masih bisa merasakan Ramadhan yang normal.

Tahun ini, Ramadhan di perantauan dengan jam yang dihabiskan untuk kuliah profesi dan membangun kerjaan untuk masa depan. Alhamdulillah selesai kerja di 2 menit sebelum adzan maghrib. Tapi masih bisa shalat tarawih dan nongkrong di masjid dari magrib dengan normal.

Lalu ketika harus kembali ke kontrakan, melewati banyak warung makan, apotek dan tempat kerja 24 jam. Banyak dari mereka yang masih sibuk membahagiakan orang lain dan mengorbankan asiknya bulan Ramadhan. Sedih ya?
Dari itu mereka membahagiakan orang lain. Entah dengan baju kembaran satu keluarga, kue-kue kering di meja, amplop-amplop buat keponakan. Dan tanpa terasa Ramadhan kelewat begitu saja.
Dari sekian banyak hal yang aku lihat di bulan Ramadhan, hal seperti ini menjadi salah satu hal ter nylekit.
Aku dan teman-teman terbiasa berbuka puasa di masjid dan menghabiskan waktu disana. Disana pun kita akan banyak menemukan orang-orang dengan kesendiriannya yang mungkin sedang ditinggal orang-orang tersayang untuk membahagiakannya di hari raya.

Semoga apa yang kita lakukan pada porsinya. Membawa yang lain ke atas, biar nggak ada yang ketinggalan dibawah. Kita bawa bahagia sama-sama.




Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer