Ingin

Namanya juga manusia, beda-beda. Yang dihadapi juga nggak sama, yang dituju juga nggak sama, prioritas juga nggak sama.
Bisa jadi yang sudah lulus kuliah mau bekerja, yang sudah bekerja ingin berumah tangga, yang sudah berumah tangga ingin punya anak, rumah, mobil. Manusia selalu rindu, rindu dengan yang lebih.
Manusia merasa menjadi yang paling. Paling tidak beruntung.
Melihat si dia bisa bekerja dengan gaji berjuta-juta sementara si ‘aku’ masih dengan gaji untuk beli bensin saja kadang bisa.
Melihat si dia bisa berumah tangga sementara si ‘aku’ masih bingung cari perjaka.
Melihat si dia sudah punya anak sementara si ‘aku’ masih ngotot nodong Tuhan untuk disegerakan.
Semua karena kita ingin menjadi yang paling, lalu kita lupa bahwa itu tidak mungkin.

Obrolan sore kemarin bersama teman satu kamar yang berujung pada keinginan yang mudah berganti-ganti. Detik ini melihat  wanita lain memakai tas cantik, kita ingin. Melihat wanita lain punya HP layar semua, kita ingin. Lalu sehari kemudian keinginan kita berubah, sesederhana ingin punya uang biar ibu di rumah tetap bisa menyeduh kopi. Keinginan manusia gampang berubah dan kadang apa yang diinginkan manusia lain tidak terlalu ‘elit’ bisa jadi itu yang dia butuhkan.

Ngobrol mengenai apa yang di mau manusia memang tidak bisa hanya satu halaman blog ini saja, bahkan sangat rumit jika memang harus dijelaskan satu persatu akan ada eyel-eyel an yang tidak ada habisnya karena merasa kebutuhannya paling ‘elit’ untuk di iyakan.

Siang tadi aku menyusuri jalan pulang dengan sepeda pinjaman milik teman diselingi gerimis yang membuat isi kepala rasanya ingin dikeluarkan semua. Aku, orang yang terbiasa berbicara sendiri di jalan menuju pulang ingin menyampaikan sesuatu pada Tuhan.

Tuhan, mungkin aku terlalu banyak menuntut seperti orang yang tidak ingin kehilangan pasangannya.
Aku pun begitu Tuhan, aku tidak ingin kehilangan kasih sayangMu. Ya walaupun aku hanya sering membual tentang kata-kata bahwa aku mencintaiMu, menabur dosa ketika jelas-jelas Engkau melihatku. 
Kali ini aku ingin meminta lagi, aku tidak perlu bercerita panjang bukan?
Kau tau apa-apa yang kini berkecambuk didalam pikiranku, sedikit  demi sedikit aku mulai frustasi karena tidak menemukan jalan.
Ternyata ada yang lupa, tidak semua bisa dicari sendiri.
Maka kali ini, mungkin sekian kali aku meminta lagi. Hilangkan sedikit saja rasa ingin didalam otak dan pikiranku, dia dan mereka yang mungkin kini bukan lagi karena ingin cinta Mu tapi karena inginnya sendiri. 

Mungkin begitu pembicaraan ku dengan diri sendiri tadi siang mendekati sore.

Lalu aku sedikit mendapatkan jawaban dari menulis ini. Bahwa sesuatu yang sebenarnya kamu butuhkan bukan dikira Tuhan kamu tidak butuh, tapi dikira Tuhan bahwa kamu masih bisa bertahan. Walaupun sulit, Tuhan janjikan kemudahan. Kembali pada ingin, manusia selalu menginginkan sesuatu. Untuk diriku yang sekarang ini menginginkan sesuatu yang tidak mungkin, ingatlah ada ingin yang bisa saja mungkin.

Dan mungkin sekarang Tuhan sedang membersamai keinginanmu, sambil berbisik Dia berkata “Jangan muluk-muluk, pelajari hidup dan jangan mau dihajar hidup.”

Komentar

Postingan Populer