Ingin dinilai menyedihkan atau kuat tak terkalahkan?


Seberapa besar sebenarnya kita patut buat mengeluhkan sesuatu yang ternyata sudah diberi lebih tapi masih menyangkal dan melemahkan diri sendiri.
Seringkali memang orang tidak pernah tau siapa diri kita, bagaimana diri kita dan sebenarnya apa sih masalah kita. Tapi pentingkah itu?
Kita terlalu terpaku sama bagaimana penilaian orang tentang kita, bagaimana cara kita menarik perhatian orang lain baik itu dari feeds instagram, baik dari PM yang kita buat di BBM, baik dari aplutan kita di sosmed-sosmed lain. Kita terlalu terpaku dengan pandangan oranglain.
Tapi lagi-lagi pertanyaan itu muncul. Pentingkah itu?
Jika dibilang tidak penting karena yang tau diri kita ya cuma kita sendiri dan yang sudah tau seberapa besarnya diri kita sama rasa syukur ya diri kita sendiri. Tapi manusia terlalu munafik dan naif untuk tidak menjajakan kata ‘pamer’ tentang kehidupannya kepada oranglain. Dan sangat disayangkan sekali semua orang melihat itu dengan didampingi perasaan kompetisi. Semua orang berlomba-lomba mencari perhatian orang lain, sibuk membuat orang lain menilai dirinya baik. Gimana ya caranya biar keliatan dewasa, gimana ya biar keliatan disegani, gimana ya biar keliatan tangguh didepan orang-orang. Sibuk dengan hal-hal  diatas dan lupa kalo sebenernya ada hal yang lebih penting buat dilomba-lomba in, di lomba-lombain dengan tidak perlu memamerkannya kepada orang lain dan tidak perlu mencari perhatian orang lain.
Jangan terlalu sibuk dengan hal itu, toh jika dirimu benar-benar baik semua orang juga akan melihat baik. Jika dirimu hanya ‘sekedar’ baik semua orang juga akan melihatmu sekedarnya saja.
Banyak yang perlu kita pelajari dari orang lain, orang-orang yang diluar sana gapernah ngaplut gimana susahnya cari duit, gimana susahnya dapet uang seribu, gimana harus susah buat makan sayap ayam doang. Udah sewajibnya kita ngeliat orang-orang yang kayak gini. Mereka nggak ada waktu buat ngeluh apalagi buat mengasihani dirinya sendiri, jangankan buat nglakuin itu buat hal yang lebih penting untuk dirinya sendiri hanya sekedar tidur di tempat yang hangat aja mereka nggak ada waktu. Lalu kita? Apa lagi yang kurang. Dengan gampangnya apa yang kita mau ada apa yang kita pengen udah didepan mata. Lagi-lagi sayangnya kita sering lupa.
Bagian curhat:
Kadang juga heran sama orang yang curhat sampe nangis-nangis kenapa hidup gini banget, kenapa hidup susah banget, kenapa duit rasanya jadi nomor satu di dunia ini. Heran. Ya emang sih setiap orang beda-beda dalam menghadapi masalah. Kadang yang Cuma kena ujan aja udah tumbang tapi ada juga yang kena tsunami pun masih tetep kokoh berdiri. Memang beda-beda. Tapi ya seenggak-enggak nya adalah bagian di hidup yang perlu disyukuri. Menikmati hidup itu bisa gimana aja bisa dengan cara apa saja. Tergantung gimana rasa syukurnya.
Bingung ketika diajak curhat orang-orang yang model begini atau ngeliatin status-status yang model begini.
Pernah kapan waktu di chat temen dengan kalimat seperti ini. “enak ya bisa kuliah, disana main-main belanja makan enak-enak. Nongkrong di kafe-kafe hits.” Kalimat yang begitu mengejutkan lagi adalah ketika “enak banget ya hidupmu gapernah ada masalah” ________
Kalimat normal ketika orang tidak tau bagaimana kita dan tidak tau sebenarnya apa yang terjadi.
Broh, lebih enak kali ketika orang menilai kita bahagia daripada ketika orang menilai kita susah, menyedihkan. Heran juga kenapa orang-orang lebih suka dilihat sebagai orang yang menyedihkan. Ingin dinilai menyedihkan atau kuat tak terkalahkan?
Lagian nggak ada salahnya kok kita pura-pura bahagia didepan orang lain, bukan pura-pura sih intinya yang penting adalah gimana kita mengolah rasa syukur dalam setiap langkah kita. Jangan terlalu panik ketika orang mulai tidak melihat wah kepada kita, tidak melihat gimana hebatnya kita. Jangan terlalu panik. Mungkin waktunya untuk memperbaiki diri, lebih mensyukuri, dan tidak selalu melihat yang lebih tinggi. 

Komentar

Postingan Populer