JILBAB ITU NGGAK CANTIK

Bohong banget kalau jilbab itu bisa bikin kamu cantik, yang ada malah bikin kamu makin bulet. Bikin kamu makin gak hits gara-gara gakbisa kibasin rambut sana-sini. Bikin makin ribet ketika baju, bawahan sama jilbab nylempang kemana-mana. Bikin nggak simple dan kesannya cewek banget. Jadi jangan percaya quotes-quotes di sosial media yang bilang kalau jilbab itu bikin cantik ukhti. Bohong.
Yang ada
JILBAB ITU UJIAN BUAT NGGAK DIPERBUDAK SAMA FASHION.
Nah itu baru bener kayaknya. Awal mau pakai jilbab, aku nulis quotes ala ala gitu di kaca kamar yang tulisannya “Aurat Before Fashion” tulisan terhits kala seorang Yuta ingin bertransformasi. Susah buat orang yang sudah kebiasaan pakai jeans, kaos oblong, sandal jepit dan rambut diuwel-uwel buat pakai rok, kaos kaki, dan usaha banget dadanya ketutup (usaha). Susah, buat orang yang duduknya gakbisa mingkup dan jalannya gakbisa rapet. Nggak ada yang maksa dan sebenernya nggak kebebanan juga sih namanya kan juga proses wajar kalau di awal rasanya “aslinya aku lebih cantik kalau nggak usah pakai kaos kaki”, “aslinya aku lebih cantik kalau pakai jeans terus baju ini”. Sering dan wajar. Tapi makin kesini perasaan yang kayak begitu juga nggak seratus persen hilang, kadang tiba-tiba muncul ketika scrolling di instagram gaya-gaya trend masa kini. Pakai turtle neck yang geli itu, jeans dilengkuk ala-ala, sneakers sejuta umat, apalagi ripped jeans sama BF jeans makin berkeliaran dan dijual dengan harga yang super duper murah. Pasti keinginan buat sekali-kali pakai celana pas ngampus atau enggak jalan sama temen ada, ada banget malah. Sekali-kali jilbabnya kayak dulu dipluntir keatas biar motif bajunya keliatan ya pengen. Sekali-kali nggak pake kaos kaki terus rok atau celananya diatas mata kaki sama pakai sneakers yang ala-ala ya pengen. Yang paling ekstrim sekali-kali juga pengen nunjukin rambut singa yang tidak pernah dikeramasin dan gatel setiap saat ini.
Susah coy, susah pakai jilbab sesuai syariat itu. Nggak gampang dan nggak mudah. Dimana orang yang sebelumnya nyaman banget pakai celana dan kaos oblong dan nggak tahan sama panas harus pakai rok, baju panjang ditambah jilbab lagi itu susah. Jadi aku saluuut banget sama mereka-mereka yang tetep nggak plin-plan sama prinsip dia buat tutup aurat walaupun panas Malang kadang yang bikin ngamuk dan dingin malang yang tiba-tiba itu. Susah juga yang harusnya pakai celana sama sandal jepit kamu udah bisa ke mall tapi kalau dikasih kaos kaki jadi agak ehem itu.
Susah ketika menggabungkan kebiasaan lama dan kebiasaan baru yang agak nggak nyambung walaupun disambung-sambungin. Jangan kebanyakan nge scroll akun-akun anak masa kini biar nggak kepingin jangan banyak-banyak ke mall kalau nggak kepingin kalah sama fashion. Jangan.
Orang-orang yang keliatannya nggak keren gayanya diluar sana itu sebenrnya bisa kok keren, bisa kok di ihiir in sama cowok-cowok cuman mereka nggak milih kayak gitu nggak milih kalah sama fashion dan nggak milih diperbudak sama fashion. Suka sebel sama orang-orang yang selalu bilang, alaah gayanya monoton dan nggak trendi. Itu karena mereka ngikutin perintah, bukan ngikutin gaya-gaya baju di Lazada dan artis-artis korea.
Salut. Salut sama mereka yang nggak  kalah dan nggak pinginan begitu ngeliat wanita-wanita lain di ehem in karena fashionnya, dibilang trendi gara-gara fashionnya. Ujian datengnya dari mana aja, termasuk dari jeans dan kaos oblong. Maka bertahanlah, hidup cuman bentar perintah kayak gini juga cuman bentar. Terus berproses jadi lebih baik bukan dimata manusia yang suka nyinyirin dandanan kamu tapi di mata ALLAH yang sayang baget sama kamu walaupun cuman pakai daster jebol.

Jangan mau diperbudak fashion Yut, berhenti scrolling akun anak masa kini. Liat kedepan. Liat ukhti-ukhti yang cantik dan seksinya disembunyiin buat suaminya itu. 

Komentar

  1. Begini, Yut...

    Era jilbab kita sadari atau tidak, sesungguhnya dimulai hampir berbarengan dari bangkitnya tulisan fiksi sekelas Habiburahman. Berlanjut dengan tulisan Tere Liye dan Asma Nadia yang rajin masuk TV dan layar lebar. Ditambah, buku nonfiksi yang sesungguhnya miskin analisis tapi easy reading sekelas buku Felix Siauw.

    Jadi pertanyaan, mengapa era tersebut muncul berbarengan dengan jualan buku beliau-beliau tersebut di atas? Asma Nadiah sendiri sudah lama berkarya di jalur penulisan fiksi islami, tapi mang momen meledaknya karya beliau kok pas tahun-tahun belakangan ini, di tengah masyarakat yang sepertinya butuh sesuatu yang baru.

    Pernah kamu dulu dengar kampaye anti pacaran dan menutup aurat sebelum era para penulis ini berjaya? Barangkali tidak sama sekali atau masih jarang.

    Sekarang, tulisan jenis beliau di atas sudah mulai menemukan kejenuhan pasar. Aku merasa miris, karena jika betul, ini bggak ada beda dengan tren musik melayu yang benerapa tahun merajai lalu hilang, tren girlband dan lainnya yang juga brberapa tahun lalu hilang.

    Meski nanti masa-masa di mana lambamg-lambang (berupa atribut) keimanan nggak lagi dibicarakan, moga kau tetap istiqomah.

    BalasHapus
  2. aamiin. karena lagi-lagi manusia sekarang mudah diprovokasi tanpa melihat peraturan tapi trend yang ada. saya ingat kata-kata mbak popy dulu bahwasanya jilbab itu hanya trend bukan kemauan diri sendiri. sebenarnya trend ini tidak salah jika memang tetap istiqomah. tapi menjadi salah ketika trend hanya berakhir dengan adanya trend baru misalnya gaya rambut ombre.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer